Garudapers
ADVERTISEMENT
Ingin pasang iklan di sini? Hubungi Kami

Cari Klarifikasi Proyek SDN Jungcangcang 1: Kepala Sekolah Katanya Rapat, Pengawas Malah Jadi Teka-Teki

Veri Mulyono
2714
×

Cari Klarifikasi Proyek SDN Jungcangcang 1: Kepala Sekolah Katanya Rapat, Pengawas Malah Jadi Teka-Teki

Sebarkan artikel ini

PAMEKASAN, Garuda Pers — Mencari klarifikasi proyek Revitalisasi SDN Jungcangcang 1 Pamekasan ternyata membutuhkan kesabaran ekstra. Bukan karena proyeknya 120 hari, tetapi untuk bertemu orang yang bisa memberikan penjelasan saja, wartawan harus menjalani “proses panjang”.

Wartawan disebut telah tiga kali mendatangi sekolah untuk meminta klarifikasi kepada Kepala SDN Jungcangcang 1 terkait pelaksanaan proyek revitalisasi senilai Rp861.885.001 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.

Namun, setiap kali hendak ditemui, informasi yang diterima hampir sama: kepala sekolah sedang rapat.

Tiga kali datang, tiga kali pula rapat. Kalau rapatnya dihitung sebagai bagian dari progres proyek, mungkin tinggal menunggu papan proyek menambahkan satu item baru: “Rapat: selesai 100 persen.”

Tentu, rapat merupakan aktivitas yang wajar dilakukan kepala sekolah. Namun, ketika wartawan datang untuk meminta klarifikasi terkait penggunaan anggaran negara dan pelaksanaan proyek pendidikan, publik tentu berharap ada kesempatan untuk memperoleh penjelasan secara langsung.

Belum berhasil mendapatkan keterangan dari pihak sekolah, wartawan kemudian mencoba meminta penjelasan kepada Ridwan selaku Kabid melalui pesan WhatsApp pada 1 Oktober 2026.

Pertanyaan yang disampaikan berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan revitalisasi SDN Jungcangcang 1.

Namun, bukannya mendapat penjelasan langsung mengenai pekerjaan, wartawan justru diarahkan untuk menghubungi Syaiful Ali, yang disebut sebagai pihak pengawas proyek.

Sampai di sini sebenarnya sederhana: tinggal minta nomor Syaiful Ali.

Baca Juga : TKA 2026 Rampung, SMK Bina Husada Pamekasan Utamakan Hak Peserta Didik

Masalahnya, ketika nomor tersebut diminta kepada Kabid, jawabannya justru belum juga datang hingga berita ini disusun.

Akhirnya muncul pertanyaan sederhana yang agak rumit: ini proyek revitalisasi sekolah atau permainan petak umpet informasi?

Wartawan mencari kepala sekolah, katanya rapat.

Wartawan mencari penjelasan dari Kabid, diarahkan kepada pengawas.

Nomor pengawas diminta, tetapi belum diberikan.

Kalau begini alurnya, wartawan bukan hanya membutuhkan kamera dan alat tulis, tetapi mungkin juga kompas untuk mencari arah klarifikasi.

Di sisi lain, persoalan proyek bukan sekadar soal siapa yang bisa ditemui wartawan.

Hasil pemantauan di lapangan sebelumnya memunculkan pertanyaan terkait dugaan kesesuaian material, termasuk ukuran besi dan material kayu, serta penggunaan alat pelindung diri atau APD oleh pekerja.

Baca Juga : Kapolresta Sumenep Pimpin Upacara Serentak di Sekolah, Pelajar Diingatkan Jauhi Judi Online dan Tawuran

Semua dugaan tersebut tentu masih membutuhkan verifikasi teknis berdasarkan RAB, gambar kerja, spesifikasi teknis, dan dokumen pelaksanaan.

Justru di sinilah pentingnya pihak pengawas memberikan penjelasan.

Jika material memang sesuai spesifikasi, sampaikan datanya.

Jika ada perbedaan, jelaskan dasar dan mekanismenya.

Jika penerapan K3 sudah diawasi, jelaskan bagaimana pengawasannya.

Sederhana sebenarnya. Publik tidak meminta sulap, hanya klarifikasi.

Dengan nilai proyek mencapai Rp861,8 juta, pertanyaan mengenai mutu pekerjaan dan mekanisme pengawasan tentu bukan pertanyaan yang bisa dibiarkan menggantung.

Garuda Pers: Kami Bukan Mencari Rapat, Kami Mencari Jawaban

Garuda Pers menegaskan, upaya konfirmasi dilakukan sebagai bagian dari prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.

Baca Juga : PENGADUAN KWI DIDUGA DIABAIKAN! DUGAAN POTONG GAJI Rp670 RIBU TAK JELAS, KINERJA DINAS DI PAMEKASAN DISOROT

Kami tidak sedang mencari siapa yang salah.

Kami hanya mencari siapa yang bisa memberikan penjelasan.

Sebab dalam proyek yang menggunakan uang negara, pertanyaan wartawan bukan gangguan. Klarifikasi justru menjadi bagian dari transparansi.

Jika Kepala SDN Jungcangcang 1 memang sedang rapat, tentu wartawan berharap setelah rapat selesai ada waktu untuk memberikan penjelasan.

Jika Syaiful Ali memang pengawas proyek, publik juga berhak mengetahui bagaimana pengawasan dilakukan.

Dan jika Ridwan selaku Kabid telah mengarahkan wartawan kepada pengawas, tentu akan lebih mudah jika nomor pengawas yang diminta juga diberikan, sehingga pertanyaan tidak terus berputar seperti bola pingpong.

Garuda Pers membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Kepala SDN Jungcangcang 1, Ridwan selaku Kabid, Syaiful Ali selaku pihak yang disebut sebagai pengawas, P2SP, Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, maupun pihak terkait lainnya.

Karena pada akhirnya, yang dicari wartawan bukan drama.

Yang dicari cuma jawaban.

gambar Promosi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *