Garudapers
ADVERTISEMENT
Ingin pasang iklan di sini? Hubungi Kami

Rp369 Juta untuk Peternakan Ayam, Warga: Jangan Sampai Ayamnya Cuma Ada di Laporan

Veri Mulyono
2098
×

Rp369 Juta untuk Peternakan Ayam, Warga: Jangan Sampai Ayamnya Cuma Ada di Laporan

Sebarkan artikel ini

SAMPANG,Garudapers— Ada yang menarik dari Desa Karangpenang Oloh, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang. Bukan soal ayam goreng, bukan pula soal harga telur yang naik-turun.

Kali ini yang bikin warga penasaran adalah dana penyertaan modal BUMDes sebesar Rp369.571.000.

Kabarnya, dana tersebut berkaitan dengan usaha peternakan ayam.

Masalahnya sederhana: ayamnya di mana?

Pertanyaan itu justru menjadi bahan perbincangan warga karena mereka mengaku belum melihat secara jelas keberadaan peternakan ayam milik desa yang disebut menggunakan dana tersebut.

“Katanya untuk ternak ayam, tapi sampai sekarang saya belum melihat ternak ayam milik desa. Yang ada justru ternak masyarakat,” ujar Ahmad, warga setempat.

Nah, di sinilah ceritanya mulai menarik.

Baca Juga : PENGADUAN KWI DIDUGA DIABAIKAN! DUGAAN POTONG GAJI Rp670 RIBU TAK JELAS, KINERJA DINAS DI PAMEKASAN DISOROT

Kalau uangnya ratusan juta, tentu masyarakat wajar berharap ada jejak usaha yang bisa dilihat. Minimal ada kandang, ayam, pakan, pengelola, aset, atau laporan keuntungan.

Jangan sampai yang berkembang justru menjadi teka-teki:

Berdasarkan data anggaran yang ada, Desa Karangpenang Oloh pada 2025 tercatat memiliki total anggaran sekitar Rp1,15 miliar. Dari jumlah tersebut terdapat pos Penyertaan Modal BUMDes sebesar Rp369.571.000.

Angka Rp369 juta tentu bukan nominal yang bisa dianggap sebagai uang receh di laci warung.

Karena itu, warga meminta pemerintah desa dan pengelola BUMDes menjelaskan secara terbuka penggunaan dana tersebut.

Jika memang digunakan untuk peternakan ayam, warga ingin mengetahui:

  • Di mana lokasi kandangnya?
  • Berapa jumlah ayam yang dipelihara?
  • Siapa pengelolanya?
  • Berapa modal yang sudah digunakan?
  • Apa saja aset BUMDes yang dibeli?
  • Berapa omzet dan keuntungan yang diperoleh?
  • Bagaimana laporan pertanggungjawabannya?

Pertanyaan tersebut bukan berarti menuduh adanya penyimpangan. Justru sebaliknya, transparansi diperlukan agar tidak muncul dugaan macam-macam di tengah masyarakat.

Baca Juga : Deholi Masih Buron, Publik Tagih Keseriusan Polres Bangkalan Berantas Bandar Narkoba

Ahmad bahkan meminta agar penjelasan tidak berhenti pada laporan administratif.

“Kalau memang ternak ayam, ya tunjukkan kandangnya. Ayamnya berapa ekor, pengelolanya siapa, dan hasilnya berapa. Jangan sampai masyarakat cuma kenal angka Rp369 juta, tapi kandang ayamnya tidak tahu di mana,” katanya.

Untuk memastikan informasi tersebut, Angkatberita.id telah meminta konfirmasi kepada Pj. Desa Karangpenang Oloh, Arif.

Pertanyaan yang disampaikan cukup konkret, mulai dari lokasi peternakan, jumlah ayam, pengelola, penggunaan dana Rp369.571.000 hingga hasil usaha BUMDes.

Namun hingga berita ini ditulis, Arif belum memberikan tanggapan.

Dengan demikian, informasi mengenai detail realisasi usaha tersebut masih menunggu penjelasan resmi dari pemerintah desa dan pengelola BUMDes.

Sebab dalam jurnalistik, diam bukan bukti bersalah, tetapi jawaban resmi tetap penting untuk membuat informasi menjadi terang dan berimbang.

Baca Juga : 13 BULAN GAJI KADUS MENGHILANG, Rp6,9 JUTA JADI TANDA TANYA! KADES DAN BENDAHARA DESA PANDAN DILAPORKAN KE POLISI

Warga berharap persoalan ini tidak berhenti sebagai bahan perbincangan.

Mereka meminta Inspektorat Kabupaten Sampang dapat melakukan pemeriksaan apabila diperlukan, khususnya untuk memastikan penyertaan modal BUMDes benar-benar digunakan sesuai peruntukan dan seluruh pengelolaannya dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab dana tersebut bersumber dari anggaran desa yang pada akhirnya menyangkut kepentingan masyarakat.

Kalau benar ada peternakan ayam, warga tentu akan senang.

Kalau ayamnya berkembang, BUMDes untung, desa mendapat manfaat, masyarakat pun ikut tersenyum.

Tetapi kalau masyarakat masih harus bermain tebak-tebakan soal lokasi kandang, jumlah ayam, modal dan hasil usahanya, maka pertanyaan publik tentu akan terus bermunculan.

Dan untuk sementara, teka-teki terbesar di Karangpenang Oloh bukanlah “ayam apa yang enak dimakan.

“Rp369 juta sudah keluar untuk usaha ayam. Lalu, ayamnya sedang bertelur, sedang tidur, atau memang belum ditemukan kandangnya?”

gambar Promosi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *