gambar Promosi

TPS3R Mandek, DLH Pamekasan Disorot: Sampah Terus Menumpuk, Fasilitas Malah Tutup?

5067
×

TPS3R Mandek, DLH Pamekasan Disorot: Sampah Terus Menumpuk, Fasilitas Malah Tutup?

Sebarkan artikel ini

PAMEKASAN — Garuda Pers.Program pengelolaan sampah melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) kembali menjadi sorotan. Di tengah persoalan sampah yang terus membutuhkan penanganan serius, sebagian TPS3R disebut justru tidak lagi beroperasi atau mengalami penutupan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: untuk apa fasilitas TPS3R dibangun jika kemudian tidak berjalan sebagaimana mestinya?

TPS3R dirancang bukan sekadar sebagai tempat menampung sampah. Konsepnya memiliki tiga prinsip utama, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle.

Reduce berarti mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya, terutama rumah tangga. Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih layak pakai. Sementara Recycle merupakan proses mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.

Baca Juga : APBD Pamekasan Bikin Kalkulator Garuk Kepala, Selisih Rp18 Miliar Muncul dari Mana?

Jika sistem tersebut berjalan konsisten, TPS3R semestinya dapat menjadi bagian penting dalam mengurangi volume sampah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Namun, ketika sebagian TPS3R justru berhenti beroperasi, efektivitas program tersebut patut dipertanyakan.

Sorotan kini mengarah kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Bukan semata soal ada atau tidaknya bangunan TPS3R, melainkan bagaimana pemerintah memastikan fasilitas tersebut benar-benar hidup, dikelola, dan memberikan manfaat setelah dibangun.

DLH perlu menjelaskan secara terbuka kondisi TPS3R yang disebut tutup tersebut. Apa penyebabnya? Apakah karena persoalan pengelola, anggaran operasional, sarana-prasarana, minimnya partisipasi masyarakat, atau kendala lainnya?

Baca Juga : Polsek Kota Sampang Temukan Kakek 77 Tahun yang Tersesat dan Lupa Jalan Pulang

Jangan sampai pengelolaan sampah hanya berhenti pada pembangunan fasilitas, sementara keberlanjutan program justru terabaikan.

Sebab, sampah tidak pernah berhenti diproduksi masyarakat. Setiap hari bertambah. Setiap hari membutuhkan penanganan.

Karena itu, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa TPS3R bukan sekadar fasilitas yang berdiri secara fisik, tetapi benar-benar menjadi pusat pengurangan dan pengolahan sampah.

Baca Juga : Proyek Jalan Pasar Tonaan Bangkalan Rp750 Juta Belum Dikerjakan, FPB Minta Penjelasan PUPR

Jika sebagian TPS3R berhenti beroperasi, siapa yang harus bertanggung jawab memastikan fasilitas tersebut kembali berfungsi?

Pertanyaan itu kini layak dijawab DLH secara terang kepada publik.

Sebab, ukuran keberhasilan program bukan hanya berapa banyak TPS3R yang dibangun, tetapi berapa banyak yang benar-benar berjalan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Garuda Pers akan terus menyoroti persoalan pengelolaan sampah dan menunggu penjelasan resmi DLH terkait kondisi TPS3R tersebut.

gambar Promosi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *